perang harga ojek online

logika nash equilibrium di balik tarif yang mencekik

perang harga ojek online
I

Pernahkah kita berdiri di pinggir jalan saat hujan rintik-rintik, membuka aplikasi ojek online, dan merasa bimbang? Di satu sisi, kita bersyukur melihat tarif yang masih sangat masuk akal untuk dompet kita. Namun di sisi lain, saat melihat jaket basah sang pengemudi yang datang menjemput, ada rasa bersalah yang diam-diam menyelinap. Kita tahu persis, potongan tarif dan promo itu sering kali mengiris pendapatan mereka. Mengapa sistem ini terasa sangat tidak adil? Siapa sebenarnya yang salah dalam rantai ini? Apakah perusahaan aplikasi memang murni terlalu serakah, atau ada kekuatan tak kasat mata yang memaksa mereka mencekik mitranya sendiri? Mari kita bedah bersama fenomena aneh ini.

II

Teman-teman mungkin masih ingat masa bulan madu ojek online beberapa tahun lalu. Saat itu, segalanya terasa bagai keajaiban teknologi. Kita bisa keliling kota hanya dengan bayar pakai uang koin berkat promo yang bertebaran. Perusahaan-perusahaan ini rela bakar uang gila-gilaan demi mengubah kebiasaan kita. Dari sudut pandang psikologi, ini adalah manipulasi perilaku yang sangat brilian. Kita dibiasakan, lalu dibuat kecanduan pada kenyamanan yang murah meriah. Tapi, sejarah selalu mengajarkan bahwa pesta pasti akan berakhir. Modal investor mulai menipis dan perusahaan dituntut untuk segera mencetak keuntungan nyata. Di sinilah mimpi indah itu berubah menjadi realitas yang pahit. Tarif yang dulunya disubsidi, kini harus menyesuaikan hukum pasar. Namun, alih-alih menemukan harga yang adil bagi semua pihak, kita malah terjebak dalam perang harga yang tiada akhir. Mengapa perusahaan tidak bersepakat saja untuk menaikkan tarif bersama-sama agar pengemudi sejahtera dan bisnis tetap jalan?

III

Logika sederhananya begini. Kalau semua aplikasi menaikkan harga secara bersamaan, kita sebagai konsumen tidak punya pilihan lain selain tetap menggunakan jasa mereka, bukan? Toh, mobilitas kita sudah sangat bergantung pada ojek online. Jika itu terjadi, pendapatan pengemudi akan naik. Perusahaan akhirnya bisa bernapas dan berhenti membakar uang. Semuanya terdengar sangat rasional dan masuk akal di atas kertas. Tapi sayangnya, dunia nyata tidak berjalan semanis itu. Ada sebuah dinding tebal yang menghalangi skenario indah ini. Sebuah dinding yang tidak dibangun dari keserakahan semata, melainkan dari rasa takut, ketidakpercayaan, dan perhitungan matematis yang sangat dingin. Kita sedang berhadapan dengan sebuah kutukan logika. Kutukan ini mengunci semua perusahaan aplikasi dalam sebuah ruang penyiksaan yang mereka bangun sendiri. Penasaran apa nama kutukan ini?

IV

Inilah momen di mana sains masuk untuk menjawab kegelisahan kita. Di dalam ilmu ekonomi dan Game Theory atau teori permainan, kutukan ini bernama Nash Equilibrium. Nama ini diambil dari ahli matematika jenius John Nash. Untuk memahaminya, mari kita bayangkan skenario klasik bernama Prisoner's Dilemma. Dua tersangka kejahatan diinterogasi polisi di ruang terpisah. Kalau keduanya bungkam, mereka hanya dihukum 1 tahun. Kalau keduanya saling menuduh, mereka dipenjara 5 tahun. Tapi, kalau satu bungkam dan satu menuduh, yang menuduh akan bebas dan yang bungkam dipenjara 10 tahun. Karena mereka berdua tidak bisa berkomunikasi dan saling percaya, pilihan paling logis untuk menyelamatkan diri sendiri adalah saling menuduh. Hasilnya? Mereka berdua terjebak masuk penjara 5 tahun.

Hal yang sama persis terjadi pada perang harga ojek online. Aplikasi A dan Aplikasi B tahu bahwa menaikkan tarif adalah langkah terbaik untuk jangka panjang. Namun, kalau Aplikasi A menaikkan tarif sementara Aplikasi B diam-diam memberi diskon, maka Aplikasi A akan kehilangan jutaan pelanggannya dalam semalam. Psikologi konsumen kita sangat sensitif terhadap harga. Beda seribu rupiah saja, kita rela pindah aplikasi. Akibat ketakutan kehilangan pangsa pasar inilah, kedua perusahaan memilih untuk terus menahan harga di titik terendah. Mereka mencapai keseimbangan, yaitu Nash Equilibrium. Tapi ini adalah keseimbangan yang merusak. Tidak ada yang berani bergerak. Perusahaan sama-sama berdarah-darah, dan yang paling hancur tentu saja para pengemudi di lapangan. Mereka tercekik oleh tarif minim demi menjaga algoritma persaingan ini.

V

Setelah menyadari hal ini, sudut pandang kita mungkin mulai bergeser. Musuh sebenarnya bukanlah semata-mata perusahaan aplikasi yang jahat, melainkan sebuah sistem matematis yang menjebak semua pihak. Tentu saja, ini bukan berarti kita membenarkan eksploitasi terhadap pengemudi. Justru, pemahaman tentang Game Theory ini menyadarkan kita bahwa perusahaan tidak akan bisa keluar dari jebakan ini sendirian. Di sinilah peran negara lewat regulasi menjadi sangat krusial. Harus ada wasit yang memaksa semua pemain menaikkan standar tarif dasar secara bersamaan. Dengan begitu, tidak ada aplikasi yang merasa dicurangi oleh pesaingnya.

Bagi kita sebagai konsumen, mungkin ini saatnya sedikit berdamai dengan kenyataan. Membayar sedikit lebih mahal untuk layanan yang menggerakkan roda ekonomi jutaan keluarga bukanlah sebuah kerugian. Sesekali, saat hujan turun dan kita melihat pengemudi itu datang menerjang genangan air, kita bisa tersenyum dengan pemahaman yang baru. Kita tahu betapa kerasnya dunia yang mereka hadapi. Dunia yang kadang dikendalikan oleh rumus matematika yang dingin. Dan di tengah dinginnya sistem itu, kita selalu bisa memilih untuk sedikit menghangatkan hari mereka dengan empati yang kita miliki.